Senin, 19 Januari 2015

Mental Masyarakat Indonesia



Studi bukanlah Ilmu, Studi mengambil Pemahaman, Pengkajian, dari berbagai konsep-konsep ilmu lain. Studi Masyarakat Indonesia lebih condong ke Masyarakat dalam hal permasalahan mentalited.
Mental Masyarakat Indonesia
Menurut koentjaraningrat terdapat Tiga golongan ciri-ciri mental manusia Indonesia :
Ciri Mental Asli
Yaitu golongan petani yang merupakan golongan terbesar penduduk Indonesia. Golongan ini bermukim di daerah pedesaan dengan system nilai sosial budaya yang telah mendalam berabad-abad (terutama di pulau jawa) mentalitas petani ini masih tercermin pada penduduk kota yang dapat melepaskan dari pengaruh mentalitas petani.
Kerangka KLUCKHOLN mengenai mentalitas petani:

Hakikat hidup / Mentalitet priyai
Hakekat hidup Priyai memandang hakekat hidup buruk, masih kuat dipengaruhi konsep filsafat hindu dalam menghadapi kehidupan yang buruk itu biasa lari ke alam kebatinan.
Petani memandang bahwa hakikat hidup itu buruk, tetapi harus diikhtiarkan menjadi suatu hal yang baik dan menyenangkan. Jika mereka tidak dapat mengatasi hakikat hidup yang buruk mereka lari menyembunyikan diri kedalam kebatinan, menyerah (nerimo).

Hakikat karya
Sesuatu untuk mencapai kedudukan dan lambang - lambang. saat ini mental ini sangat terasa dalam bidang pendidikan yang diarahkan gelar akademik. Untuk gengsi sosial.
Yaitu memandang hakikat karya itu untuk hidup bukan kerja untuk memperbaiki kerja yang lebih lanjut. Memandang kerja untuk makan sehingga setelah kebutuhan makan tercapai mereka berhenti berusaha.

Persepsi waktu
Wawasan waktu ke masa silam, sejarah waktu lampau baik yang nyata maupun yang tidak nyata yang ada pada legenda atau mitologi.
Yaitu petani berorientasi pada hari ini (sekarang) tidak berorientasi pada hari esok dan hari yang akan datang.

Hubungan manusia dengan alam terjadi keselarasan alam dengan menyesuaikan diri dengan kondisi alam.
Beberapa pandangan bahwa manusia sebaiknya menyelaraskan diri nya dengan alam [ sama dengan petani] karena mereka ada yang berasal dari petani sehingga pengaruh mentalitet petani melekat pada mereka.
Hubungan antar manusia sesamanya lebih berorientasi keatas.
Taat ,patuh, dan mengabdi kepada atasan merupakan suatu kehormatan yang tinggi.

Historis Indonesia (-) 500 Tahun
1.      Ras Austro-Melanesoid
2.      Tingkat Meramu Sederhana
3.     P enyebaran Agama
4.   Penjajahan ( Dijajah Lama) Borguis
( Loss Generation) Instan


Ciri mental manusia indonesia sejak PD II

Mentalitas meremehkan mutu
Mentalitas suka menerabas
Tidak percaya kepada diri sendiri
Tidak berdisiplin murni
Mengabaikan tanggung jawab

Ciri mental manusia Indonesia menurut Mochtar Lubis
Hipokritis atau munafik
Feodalisme
Masih percaya pada takhyul
Artistik

Indonesia memiliki jumlah penduduk yang cukup banyak sehingga mengalami ledakan penduduk atau sering disebut dengan over population tetapi dengan jumlah penduduk yang banyak tersebut tetap saja masih terdapat pulau-pulau yang kosong, hal tersebut disebabkan karena persebaran pendudukan yang kurang merata.
Dengan adanya persebaran penduduk yang tidak merata berimbas pada kualitas SDM yang kurang baik atau bahkan bisa dikatakan kurang pintar dalam menghadapi kehidupan yang sedang dialami bahkan yang akan datang pun akan terkesan tertinggal dengan bangsa yang lainnya.

Kualitas SDM yang rendah tersebut dapat terlihat pada sikap mental bangsa Indonesia yang masih percaya pada hal-hal yang bersifat takhayul dan mistis, misalnya saja kasus ponari. Selain itu perilaku mental masyarakat Indonesia pun semakin buruk, misalnya dengan makin maraknya kasus korupsi dikalangan para pejabat, meningkatnya kasus bunuh diri, guru yang menjual narkoba pada muridnya, dan wakil rakyat yang tidak mencerminkan sikap sebagai seorang wakil rakyat dengan menjadi pengedar narkoba.
Latar belakang terjadinya penurunan dalam sikap masyarakat Indonesia terjadi karena kehidupan masyarakat Indonesia yang terus berkembang , porsi kebutuhan manusia yang disediakan alam nilainya akan semakin kecil disisi manusia merupakan mahluk yang memiliki keterbatasan akan dirinya dan keterbatasan alam lingkungannya. Sehingga dengan akal budinya manusia berusaha mengimbangi pertumbuhan kehidupan dengan segala kebutuhannya dengan membudayakan sumber daya lingkungan dalam mengatasi hal itu tak jarang menimbulkan konfrontasi dengan kenyataan yang terbatas dalam dirinya dan alam lingkungannya.

Modernisasi
Merupakan proses mengangkat kehidupan, suasana batin yang lebi h baik dan maju daripada sebelumnya,suasana kehidupan yang serasi dengan kemajuaan zaman.
Maka dalam kehidupan modernisasi tercermin :


Alam fikiran rasional
Ekonomis
Efektif
Efisien
Menuju kehidupan yang makin produktif

Globalisasi
Adalah arus informasi dan komunikasi tanpa batas terhadap kehidupan masyarakat di dunia.

Global imfact
Adalah masyarakat yang mengalami anomi atau tidak mempunyai norma, heteronomi atau mempunyai banyak norma karena mempunyai prilaku yang heteronomi maka terjadi kompromisme sosial.

Kondisi yang mempengaruhi:
1.      Geografi
2.      Historis
3.      Sosial Budaya
4.      Sosial Ekonomi
5.      Sosial Politik
6.      Sosial Psikologi

Karakteristik Masyarakat Tradisional : Terikat pada kuatnya norma dalam sistem kekerabatan, Hidup dalam dunia yang tertutup, menggantungkan diri pada nasib, Takut / khawatir akan masuknya hal – hal baru, Alam dipandang sebagai hal yang dahsyat dan manusia tunduk kepadanya, Hidup berorientasi pada masa lalu, Gaya hidup pasif, Mobilitas masyarakat rendah.
Karakteristik Masyarakat Modern : Mengendurnya norma dalam sistem kekerabatan, Pola kehidupan lebih terbuka, nasib bisa dirubah, Hal – hal baru dipandang sebagai sesuatu yang masih menantang, Alam dipandang sebagai hal yang perlu dikuasai, Hidup berorientasi pada masa kini dan masa depan, Gaya hidup aktif dan inovatif dan Mobilitas masyarakat tinggi (Becoming Modern :Alex inkeles & David H.Smith, 1989)
Mentalitas Pembangunan Masyarakat Indonesia
1.      Nilai Budaya yang berorientasi ke masa depan, akan mendorong manusia untuk melihat dan merencanakan masa depan dengan lebih baik, lebih seksama,telit, berhati-hati, dan berhemat, untuk mengakumulasi modal untuk pembangunan.
2.      Sifat Hemat
3.      Eksplorasi dan eksploitasi yang terencana dan terukur
4.      Pandangan hidup yang menilai Achievement dari karya
5.      Kurang berorintasi Vertikal, Pede berarti bertanggung jawab
Melihat pengalaman program ini selama proses pendampingan nampak bahwa sebagian karakteristik di atas belum bisa sepenuhnya dimiliki oleh masyarakat. Saat ini mereka masih dalam masa transisi menuju perubahan ke arah masyarakat yang lebih modern.
Ada beberapa karakteristik mental masyarakat yang menghambat proses pembangunan baik pada tingkat individu maupun komunal.
Menurut Koentjaraningrat karakteristik mental masyarakat yang menghambat adalah sebagai berikut :
Pandangan terhadap waktu, masih banyak manusia Indonesia yang berorientasi pada masa lalu. Dalam kegiatan program hal ini cukup dirasakan masih berkembang di masyarakat. Masyarakat masih berorientasi kepada masa lalu hal ini terlihat dari pemilihan maupun penunjukan posisi tertentu seperti kepala desa, kepala dusun maupun pengurus kelompok. Untuk posisi – posisi tersebut salah satu hal yang menjadi pedoman adalah bahwa yang bersangkutan harus merupakan seorang ‘keturunan’ bangsawan. Hal ini tidak akan menjadi masalah jika orang yang dipilih secara teknis mampu menjalankan tugasnya akan tetapi yang sering terjadi status bangsawan seringkali bukan merupakan cerminan kemampuan (dan mungkin juga kemauan) seseorang untuk mengembangkan masyarakatnya. Pandangan yang cenderung ‘menyamakan’ program dengan program – program terdahulu yang kurangberhasil juga seringkali menjadi hambatan tersendiri dalam kegiatan.
Pandangan terhadap sesama, pandangan yang lebih banyak didasarkan pada prinsip gotong royong, pada dasarnya baik. Namun dari beberapa kasus dan pengalaman dalam program ini seringkali keberhasilan seseorang dalam mengelola program cenderung diremehkan ( lihat kasus penggabungan kelompok) . Hal ini tentunya merupakan sikap yang lebih banyak merugikan kepentingan orang banyak, karena yang kemudian terjadi kegiatan akhirnya jadi surut.
Mentalitas suka menerabas, cenderung menghalalkan segala cara untuk mencapainya. Dari beberapa kasus lapangan dalam program , hal ini masih cukup kelihatan dimana seringkali program dimanfaatkan untuk mencapai tujuan politis di tingkat desa, untuk menjatuhkan nama seseorang dll ( politisasi program, peran tokoh masyarakat, peran pemerintah setempat).
Tidak percaya diri sendiri,
Pada awal kegiatan, hal ini senantiasa muncul dan cukup dirasakan dalam proses pendampingan, biasanya masyarakat akan cenderung mengharapkan peran yang besar dari petugas atau pendamping. Dengan kondisi ini diperlukan sikap yang benar dari pendamping supaya rasa percaya diri masyarakat untuk merencanakan, mengelola dan melaksanakan kegiatan akan makin besar (meningkat).
Mentalitas yang berorientasi vertikal,
Sangat tergantung pada restu atasan dalam melakukan banyak hal sehingga mematikan inovasi dan kreatifitas .
Dari uraian di atas bisa disimpulkan bahwa perubahan mental masyarakat akan berlangsung dengan lebih cepat jika saja semua pihak benar-benar memiliki komitmen, kemampuan, ketrampilan dan sikap yang benar dalam membangun masyarakat.

1 komentar: