Studi bukanlah Ilmu, Studi mengambil Pemahaman,
Pengkajian, dari berbagai konsep-konsep ilmu lain. Studi Masyarakat
Indonesia lebih condong ke Masyarakat dalam hal permasalahan mentalited.
Mental
Masyarakat Indonesia
Menurut koentjaraningrat terdapat Tiga golongan ciri-ciri
mental manusia Indonesia :
Ciri Mental Asli
Ciri Mental Asli
Yaitu golongan petani yang merupakan golongan terbesar
penduduk Indonesia. Golongan ini bermukim di daerah pedesaan dengan system
nilai sosial budaya yang telah mendalam berabad-abad (terutama di pulau jawa)
mentalitas petani ini masih tercermin pada penduduk kota yang dapat melepaskan
dari pengaruh mentalitas petani.
Kerangka KLUCKHOLN mengenai mentalitas petani:
Kerangka KLUCKHOLN mengenai mentalitas petani:
Hakikat hidup / Mentalitet priyai
Hakekat hidup Priyai memandang hakekat hidup buruk,
masih kuat dipengaruhi konsep filsafat hindu dalam menghadapi kehidupan yang
buruk itu biasa lari ke alam kebatinan.
Petani memandang bahwa hakikat hidup itu buruk, tetapi
harus diikhtiarkan menjadi suatu hal yang baik dan menyenangkan. Jika mereka
tidak dapat mengatasi hakikat hidup yang buruk mereka lari menyembunyikan diri
kedalam kebatinan, menyerah (nerimo).
Hakikat karya
Sesuatu untuk mencapai kedudukan dan lambang -
lambang. saat ini mental ini sangat terasa dalam bidang pendidikan yang
diarahkan gelar akademik. Untuk gengsi sosial.
Yaitu memandang hakikat karya itu untuk hidup bukan kerja
untuk memperbaiki kerja yang lebih lanjut. Memandang kerja untuk makan sehingga
setelah kebutuhan makan tercapai mereka berhenti berusaha.
Persepsi waktu
Wawasan waktu ke masa silam, sejarah waktu lampau baik
yang nyata maupun yang tidak nyata yang ada pada legenda atau mitologi.
Yaitu petani berorientasi pada hari ini (sekarang)
tidak berorientasi pada hari esok dan hari yang akan datang.
Hubungan manusia dengan alam terjadi keselarasan alam
dengan menyesuaikan diri dengan kondisi alam.
Beberapa pandangan bahwa manusia sebaiknya
menyelaraskan diri nya dengan alam [ sama dengan petani] karena mereka ada yang
berasal dari petani sehingga pengaruh mentalitet petani melekat pada mereka.
Hubungan
antar manusia sesamanya lebih berorientasi keatas.
Taat ,patuh, dan mengabdi kepada atasan merupakan
suatu kehormatan yang tinggi.
Historis Indonesia (-) 500 Tahun
1.
Ras Austro-Melanesoid
2.
Tingkat Meramu Sederhana
3. P enyebaran Agama
4. Penjajahan ( Dijajah Lama) Borguis
( Loss Generation) Instan
Ciri mental manusia indonesia sejak PD II
Mentalitas meremehkan mutu
Mentalitas suka menerabas
Tidak percaya kepada diri sendiri
Tidak berdisiplin murni
Mengabaikan tanggung jawab
Ciri mental manusia Indonesia menurut Mochtar Lubis
Hipokritis atau munafik
Feodalisme
Masih percaya pada takhyul
Masih percaya pada takhyul
Artistik
Indonesia memiliki jumlah penduduk yang cukup banyak
sehingga mengalami ledakan penduduk atau sering disebut dengan over population
tetapi dengan jumlah penduduk yang banyak tersebut tetap saja masih terdapat
pulau-pulau yang kosong, hal tersebut disebabkan karena persebaran pendudukan
yang kurang merata.
Dengan adanya persebaran penduduk yang tidak merata
berimbas pada kualitas SDM yang kurang baik atau bahkan bisa dikatakan kurang
pintar dalam menghadapi kehidupan yang sedang dialami bahkan yang akan datang
pun akan terkesan tertinggal dengan bangsa yang lainnya.
Kualitas SDM yang rendah tersebut dapat terlihat pada
sikap mental bangsa Indonesia yang masih percaya pada hal-hal yang bersifat
takhayul dan mistis, misalnya saja kasus ponari. Selain itu perilaku mental
masyarakat Indonesia pun semakin buruk, misalnya dengan makin maraknya kasus
korupsi dikalangan para pejabat, meningkatnya kasus bunuh diri, guru yang
menjual narkoba pada muridnya, dan wakil rakyat yang tidak mencerminkan sikap
sebagai seorang wakil rakyat dengan menjadi pengedar narkoba.
Latar belakang terjadinya penurunan dalam sikap masyarakat
Indonesia terjadi karena kehidupan masyarakat Indonesia yang terus berkembang ,
porsi kebutuhan manusia yang disediakan alam nilainya akan semakin kecil disisi
manusia merupakan mahluk yang memiliki keterbatasan akan dirinya dan
keterbatasan alam lingkungannya. Sehingga dengan akal budinya manusia berusaha
mengimbangi pertumbuhan kehidupan dengan segala kebutuhannya dengan
membudayakan sumber daya lingkungan dalam mengatasi hal itu tak jarang
menimbulkan konfrontasi dengan kenyataan yang terbatas dalam dirinya dan alam
lingkungannya.
Modernisasi
Merupakan proses mengangkat kehidupan, suasana batin yang lebi h baik dan maju daripada sebelumnya,suasana kehidupan yang serasi dengan kemajuaan zaman.
Maka dalam kehidupan modernisasi tercermin :
Merupakan proses mengangkat kehidupan, suasana batin yang lebi h baik dan maju daripada sebelumnya,suasana kehidupan yang serasi dengan kemajuaan zaman.
Maka dalam kehidupan modernisasi tercermin :
Alam fikiran rasional
Ekonomis
Efektif
Efisien
Menuju kehidupan yang makin produktif
Efektif
Efisien
Menuju kehidupan yang makin produktif
Globalisasi
Adalah arus informasi dan komunikasi tanpa batas terhadap kehidupan
masyarakat di dunia.
Global imfact
Adalah masyarakat yang mengalami anomi atau tidak mempunyai norma,
heteronomi atau mempunyai banyak norma karena mempunyai prilaku yang heteronomi
maka terjadi kompromisme sosial.
Kondisi
yang mempengaruhi:
1. Geografi
2. Historis
3. Sosial
Budaya
4. Sosial
Ekonomi
5. Sosial
Politik
6. Sosial
Psikologi
Karakteristik
Masyarakat Tradisional : Terikat pada kuatnya
norma dalam sistem kekerabatan, Hidup dalam dunia yang tertutup, menggantungkan
diri pada nasib, Takut / khawatir akan masuknya hal – hal baru, Alam dipandang
sebagai hal yang dahsyat dan manusia tunduk kepadanya, Hidup berorientasi pada
masa lalu, Gaya hidup pasif, Mobilitas masyarakat rendah.
Karakteristik
Masyarakat Modern : Mengendurnya norma dalam
sistem kekerabatan, Pola kehidupan lebih terbuka, nasib bisa dirubah, Hal – hal
baru dipandang sebagai sesuatu yang masih menantang, Alam dipandang sebagai hal
yang perlu dikuasai, Hidup berorientasi pada masa kini dan masa depan, Gaya
hidup aktif dan inovatif dan Mobilitas masyarakat tinggi (Becoming Modern :Alex
inkeles & David H.Smith, 1989)
Mentalitas
Pembangunan Masyarakat Indonesia
1. Nilai Budaya yang berorientasi ke masa depan, akan mendorong manusia
untuk melihat dan merencanakan masa depan dengan lebih baik, lebih
seksama,telit, berhati-hati, dan berhemat, untuk mengakumulasi modal untuk
pembangunan.
2. Sifat Hemat
3. Eksplorasi dan eksploitasi yang terencana dan terukur
4. Pandangan hidup yang menilai Achievement dari karya
5. Kurang berorintasi Vertikal, Pede berarti bertanggung jawab
Melihat
pengalaman program ini selama proses pendampingan nampak bahwa sebagian
karakteristik di atas belum bisa sepenuhnya dimiliki oleh masyarakat. Saat ini
mereka masih dalam masa transisi menuju perubahan ke arah masyarakat yang lebih
modern.
Ada beberapa
karakteristik mental masyarakat yang menghambat proses pembangunan baik pada
tingkat individu maupun komunal.
Menurut
Koentjaraningrat karakteristik mental masyarakat yang menghambat adalah sebagai
berikut :
Pandangan
terhadap waktu, masih banyak manusia Indonesia
yang berorientasi pada masa lalu. Dalam kegiatan program hal ini cukup
dirasakan masih berkembang di masyarakat. Masyarakat masih berorientasi kepada
masa lalu hal ini terlihat dari pemilihan maupun penunjukan posisi tertentu
seperti kepala desa, kepala dusun maupun pengurus kelompok. Untuk posisi –
posisi tersebut salah satu hal yang menjadi pedoman adalah bahwa yang
bersangkutan harus merupakan seorang ‘keturunan’ bangsawan. Hal ini tidak akan
menjadi masalah jika orang yang dipilih secara teknis mampu menjalankan
tugasnya akan tetapi yang sering terjadi status bangsawan seringkali bukan
merupakan cerminan kemampuan (dan mungkin juga kemauan) seseorang untuk
mengembangkan masyarakatnya. Pandangan yang cenderung ‘menyamakan’ program
dengan program – program terdahulu yang kurangberhasil juga seringkali menjadi
hambatan tersendiri dalam kegiatan.
Pandangan
terhadap sesama, pandangan yang lebih banyak
didasarkan pada prinsip gotong royong, pada dasarnya baik. Namun dari beberapa
kasus dan pengalaman dalam program ini seringkali keberhasilan seseorang dalam
mengelola program cenderung diremehkan ( lihat kasus penggabungan kelompok) .
Hal ini tentunya merupakan sikap yang lebih banyak merugikan kepentingan orang
banyak, karena yang kemudian terjadi kegiatan akhirnya jadi surut.
Mentalitas
suka menerabas, cenderung menghalalkan segala
cara untuk mencapainya. Dari beberapa kasus lapangan dalam program , hal ini
masih cukup kelihatan dimana seringkali program dimanfaatkan untuk mencapai
tujuan politis di tingkat desa, untuk menjatuhkan nama seseorang dll (
politisasi program, peran tokoh masyarakat, peran pemerintah setempat).
Tidak
percaya diri sendiri,
Pada awal
kegiatan, hal ini senantiasa muncul dan cukup dirasakan dalam proses
pendampingan, biasanya masyarakat akan cenderung mengharapkan peran yang besar
dari petugas atau pendamping. Dengan kondisi ini diperlukan sikap yang benar
dari pendamping supaya rasa percaya diri masyarakat untuk merencanakan,
mengelola dan melaksanakan kegiatan akan makin besar (meningkat).
Mentalitas
yang berorientasi vertikal,
Sangat
tergantung pada restu atasan dalam melakukan banyak hal sehingga mematikan
inovasi dan kreatifitas .
Tugaaaaaassss :)
BalasHapus